Hakekat Dan Rahasia Asal Kejadian Negeri Buton - 22 September 2010 - JEMBATAN ILMU PENGETAHUAN
Thursday, 01.19.2017, 1:06 AM
Main Registration Login
Welcome, Guest · RSS
Site menu
Tag Board
Our poll
Bagaimana Kondisi Website ini
Total of answers: 19
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
 
Main » 2010 » September » 22 » Hakekat Dan Rahasia Asal Kejadian Negeri Buton
4:54 AM
Hakekat Dan Rahasia Asal Kejadian Negeri Buton
Oleh : Asis

Sumber :
  1. Saduran oleh La Ode Ichram tahun 1996, dari tulisan La Ode Tanziylu terjemahan Buku Tembaga yang judul aslinya (ASSAJARU HULIQA DAARUL BATHNIY WA DAARUL MUNAJAT dan tulisan La Ode Zaenu "Buton dalam Sejarah Kebudayaan”.
  2. Ikhtisar Adat Istiadat dan Budaya Masyarakat Buton oleh Yayasan Keraton Wolio Buton

Pada tahun III (Hijriah atau tepatnya pada tahun 624 M, yang mana Rasulullah SAW selesai mengerjakan Shalat Fardhu Shubuh berjamaah bersama-sama para sahabat dan pengikut dari Kaum Muhajirin maupun Kaum Ansyardalam Mesjid. Beliau di Madinah (Masjid Quba). Seperti biasa selesai mengerjakan shalat fardhu para sahabat, pengikut dari kaum Muhajirin maupun Ansyar tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, tetapi mendengarkan petuah atau nasehat dari Rasulullah SAW tentang segala hal yang belum mereka ketahui. Tatkala Rasulullah SAW sedang memberikan petuah atau nasehat, tiba-tiba terdengarlah oleh mereka suara dentuman sebanyak tiga kali berturut-turut, lalu dari salah seorang sahabat bertanya kepada beliau : Ya Rasulullah bunyi apakah gerangan tadi?, kemudian Rasulullah menjawab : Sesungguhnya bunyi dentuman yang baru kita dengarkan bersama tadi adalah : Menurut firman Allah SWT yang telah diwahyukan kepadaku melalui Hadits Qudsi "bahwa jauh dari sebeleh Timur Arabia ini ada dua gugusan tanah yang telah lama muncul dari permukaan laut untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Sedang menurut "Sabda Rasulullah SAW” bahwa manusia yang menjadi penghuni kedua negeri itu sebagian besar akan mengikuti seruanku yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu sebelum kita didahului oleh bangsa lain untuk menginjakkan kakinya pada kedua negeri tersebut lebih baik kita yang mendahului.

Kemudian Rasulullah SAW mengutus salah seorang sahabatnya untuk mencari kedua negeri tersebut, akan tetapi sahabat yang ditunjuk beliau masih merasa takut. Selain itu situasi di Madinah saat itu masih dalam keadaan berkabung karena perang. Akhirnya pencarian kedua negeri tersebut ditangguhkan sambil menunggu keadaan Negeri Madinah normal kembali.

Karena gagal menunjuk salah seorang sahabat serta tidak ingin didahului oleh bangsa lain, Rasulullah SAW segera mengadakan musyawarah bersama para sahabatnya untuk membahasa rencana pencarian kedua negeri tersebut. Dalam musyawarah disepakati bahwa akan diutus dua orang bersaudara yaitu saudara Rasulullah SAW sendiri yang belum disebutkan namanya.

Kemudian pada tahun VII (ketujuh) Hijriah, Rasulullah SAW mengutus dua orang bersaudara (kakak beradik) yaitu saudara beliau dari Bani Hasyim untuk mencari kedua negeri yang dimaksud, yaitu masing-masing bernama :
1. Abdul Gafur, ahli Biologi
2. Abdul Syukur, ahli Antropolgi

Dalam suatu musyawarah yang dihadiri Ali bin Abithalib bersama istrinya Fatimatuh Zuhra (Fatima Az-Zahra) serta para kerabat tertentu. Dengan keputusan yang telah diambil. Rasulullah SAW berpesan kepada semua yang hadir agar hasil keputusan tersebut tidak disiarkan kepada yang lainnya. Sebab apa yang telah dibahas menyangkut ilmu Nabi dan bukan ilmu Rasul. Kemudian Rasulullah SAW berpesan kepada kedua utusan tersebut dengan sabda yang artinya :
Bawalah kedua bendera ini, dan pasanglah pada tiap-tiap negeri yang saudara-saudara jumpai. Adalah sebagai bukti yang menunjukkan bahwa kedua negeri itu adalah penemuanku. Dan perlu saudara-saudara sama maklumi bahwa hakekat dan rahasia isi hatiku pada kedua negeri dimaksud sangat erat dengan keadaanku, baik dalam bathinia maupun dalam lahiriah, dan ini adalah salah satu titipan sepeninggalku nanti pada saudara-saudara sebagai pusaka dariku untuk diwariskan kepada generasi penerus yang menjadi penghuni kedua negeri tersebut. Karena dari Mekah, Madinah dan kedua negeri yang kusesuaikan dengan susunan rangkaian namaku Muhammad yang empat hurufnya akan kujadikan pula menjadi hakekat rahasia yang terkandung dalam tiap-tiap huruf namaku menjadi nama keempat negeri yang dimaksud yaitu Mekkah, Madinah dan kedua negeri yang akan dicari oleh saudara-saudara utusanku.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi, yang artinya :
1. Mekkah itu kutamsil ibaratkan kepalaku dan makam hakekatnya dikandung huruf MIM awal dari rangkaian namaku Muhammad
2. Dan Madinah ini kutamsil ibaratkan badanku, dan makam hakekatnya dikandung huruf HA dari rangkaian huruf namaku Muhammad
3. Dan tanah yang mula-mula dijumpai oleh saudara-saudara utusanku, adalah kutamsil ibaratkan perutku dan kunamai di Bathniy (bathnun) yang artinya perutku. Sebagaimana yang tersebut tadi maka hakekatnya dikandung huruf MIM kedua dari rangkaian huruf namaku Muhammad
4. Sedangkan tanah yang terakhir dijumpai oleh kedua utusanku adalah kutamsil ibaratkan kedua belah kakiku yaitu Rijalaan (Rijlun) artinya kedua belah kakiku, sebagaimana tersebut diatas dan makam hakekatnya dikandung huruf DAL, dari rangkaian huruf namaku Muhammad dan kunamai dia Munajat (tujuan)

Selanjutnya beliau bersabda lagi, sebagai berikut :
Menurut hakekat rahasia keyakinan hatiku, kedua negeri tersebut kunamai dia masing-masing BATHNIY dan RIJALAANI.

Karena Mekkah itu menurut rahasia keyakinan isi hatiku adalah kutamsil kepalaku, dan kita semua maklumi bahwa pada tiap-tiap kepala manusia mengandung suatu makam "DI MAQHA” namanya. Di Maqha inilah letaknya Mekkah itu yang kurangkaikan dengan MIM awal dari rangkaian huruf namaku sebagaimana yang saya katakan tadi. Karena di Mekkah lah mulai terbuka pikiranku untuk memperjuangkan kebenaran Islam sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW :

WAL MAKKIYAH WARA’SUUKAL MIIMIL AWALI ALAA SUURATIL MUHAMMAD

Artinya :
Mekkah itu adalah kepalaki huruf MIM awal dari rangkaian namaku Muhammad

Begitu pula dengan Yatsrib atau MADINATUN NABI artinya Kota Nabi, adalah kutamsil ibaratkan badanku karena didalam badan manusia atau dada manusia itu merupakan suatu makam yang mengandung hati dalam hakekatnya dikandung huruf HA dari rangkaian huruf namaku Muhammad. Dan Hadits Rasulullah SAW berbunyi :

ALMADINAYAH WAL BADAANU KAL HA ALAA SUURATI MUHAMMAD

Artinya :
Madinah itu adalah dadaku huruf HA dari rangkaian huruf namaku Muhammad dan kutamsil ibaratkan dadaku.

Karena dalam sabda beliau yang artinya :

Dan Madinah inilah saya mengumpulkan semua kekuatan, pikiran maupun tenaga dengan tulus dan ikhlas karena Allah SWT, bersama para sahabat dan pnegikut-pengikut ku baik dari kaim Muhajirin maupun kaum Ansyar untuk mempertahankan kemegahan Islam yaitu agama yang benar dan lurus disisi Allah SWT.

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, yang artinya :
Demikian pula pertama yang dijumpai dari kedua saudara-saudara utusanku, saya namai Bathniy atau perutku, karena semua dalam perut itu sebagian melalui jantung. Itulah sebabnya saya namai Bathniy sebab di negeri itu merupakan suatu HAZANA bagiku untuk kujadikan pembendaharaan penyimpanan hakekat rahasia agama yang kuperjuangkan dan mengenai hubungannya dengan Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

WAL BATHNIY KALMIYMITS TSAANI ALAA SUURATI MUHAMMAD

Artinya :
Bathniy kutamsil ibaratkan perutku dari huruf MIM kedua rangkaian namaku Muhammad

Dalam syair Kabanti Kanturuna Mohelana (sastra klasik Buton) berikut ini :
Tuamosi yaku kupatindamo,
Ikompona incema euyincana,
Kaapaaka upeelu butuni,
Kumaanaia butuni o kompo,
Motodhikana inuncana qura’ani,
Itumo dhuka nabita akooni,
Apayincana sababuna tanasiy,
Tuamo siy auwalina wolio,
Inda kumondoa kupetula-tulakea,
Sokudhingki auwalina tuasiy,
Toakana akosaro butuni,
Amboresimo pangkati kalangana,

Artinya :
Demikian inilah saya bertanya, Diperut siapa engkau tampak, Karena engkau suka butuni, Kuartikan butuni mengandung, Yang terdapat dalam Al Qur’an, Disitu pula Nabi bersabda, Menjadi asal sebab tanah Wolio, Demikian ini awalnya Wolio, Tidak selesai kuceritakan semua, Sebabnya bernama butuni, Karena menempati derajat yang tinggi.

Dan sabdanya lagi yang artinya :

Sedang negeri terakhir yang ditemui oleh kedua saudara utusanku, kutamsil sebagai kedua belah kakiku dan kunamai Munajat.

Karena bunyi dentuman yang pertama menandakan bahwa negeri itulah yang pertama-tama memperkenalkan dirinya kepada dunia. Bertepatan dengan bunyi dentuman tersebut Munajatnya pula doa saya kehadirat Allah SWT untuk memohon syafaat kepada semua umat pengikut Ku dan kumohonkan petunjuk yang benar bagi manusia yang berada ditempat kejahilan dan kekafiran. Mudah-mudahan mereka beriman dan taqwa kepada Allah SWT.

Beliau bersabda lagi :

WAL MUNAJAT RAJALAANIY KAL DAL ALAA SUURATI MUHAMMAD

Artinya :
Negeri Munajat adalah kedua belah kakiku huruf DAL dari rangkaian huruf namaku Muhammad

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi :

Artinya :
Wahai saudara utusanku Abdul Gafur dan Abdul Syukur, berangkatlah sebagai pelaksanaan Jihad Fisabilillah.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi :

WALAA TAHZAN INALLAHA MA’NAA

Artinya :
Dan janganlah takut dan gentar, Allah SWT bersama kita.

Ambillah kedua bendera ini, dan pasangkanlah satu persatu di negeri yang saudara-saudara jumpai dan pesanku pada saudara-saudara, laksanakanlah dengan hati yang hati yang tulus ikhlas untuk keagungan dan kemuliaan nama saudara-saudara dan merupakan lambang bukti perjuangan saudara-saudara yang menghiasi lembaran sejarah dikemudian hari.

Kemudian kedua utusan ini menerima kedua bendera tersebut dari tangan Rasulullah SAW. Kedua bendera tersebut berwarna sama yaitu hijau ditulis aksara Arab dengan hiasan sulaman benang emas berbunyi " LAILAHA ILALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH” (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah).

Dengan diiringi doa dan restu dari Rasulullah SAW, sahabat-sahabat dan keluarga yang ditinggalkan, mudah-mudahan pencarian kedua negeri tersebut oleh kedua utusan dikabulkan oleh Allah SWT dan kembali ke Negeri Medinah dalam keadaan selamat. Maka berangkatlah kedua utusan tersebut meninggalkan Medinah menuju Jeddah untuk mengarungi lautan dan samudera, guna mencari kedua negeri yang diwasiatkan oleh junjungan kita yang mulia Nabi Besar Muhammad SAW, yang dilengkapi dengan hakekat bahtera (kapal) dan skema hubungan keempat negeri seperti yang disebutkan.

Kedua utusan Rasulullah SAW tidak langsung menemukan kedua negeri yang diwasiatkan, tetapi Abdul Gafur dan Abdul Syukur mengembara ke beberapa negeri seperti Johor, Pasai dan Cina dan masih banyak lagi negeri-begeri yang dilewati, tetapi tidak diriwayatkan oleh kedua utusan tersebut. Sehingga pengembaraan untuk mencari kedua negeri yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW menghabiskan waktu kurang lebih 60 tahun.

Penemuan kedua negeri oleh utusan Rasulullah SAW tersebut, mengenal asal mula terjadinya negeri Buton dan Muna seperti yang diriwayatkan oleh kedua utusan tersebut, adalah bertetapan dengan malam Nisif Sya’ban yaitu lima belas malam bulan di langit yang malam itu bertetapan dengan 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, berarti telah memasuki abad VII. Saat itulah kedua utusan Rasulullah SAW tiba di suatu negeri yang belum dihuni oleh manusia.

Dari kejauhan nampak oleh mereka daratan, yang baru dilihat oleh salah seorang dari kedua utusan tersebut, lalu berkata "BATHA GAFURA” artinya pasir gafur dan kata yang diucapkan salah seorang utusan Rasulullah SAW diabadikan menjadi sebuah nama kecamatan yaitu Kecamatan Batauga (sekarang wilayah Kabupaten Buton). Kemudian kedua utusan tadi terus menyusuri pantai dan salah seorang dari kedua utusan berkata lagi bahwa : pinggir pantai yang baru kita jumpai ini bagaikan pinggiran pantai Masyira (Mesir), kemudian kakak beradik Abdul Gafur dan Abdul Syukur selaku mandataris dari Rasulullah SAW mendarat di negeri yang baru mereka temukan untuk melakukan penyelidikan.

Setelah meneliti keadaan negeri yang baru ditemukan tadi, Abdul Gafur menulis pada sebuah batu bunyinya "MASYIRA”. Namun sayang prasasti yang ditulis itu, sekarang sudah hilang karena waktu dan keadaan. Tulisan tersebut diabadikan menjadi nama sebuah desa yaitu Desa Masiri (wilayah Kec. Batauga Kab. Buton).

Setelah mengitari daerah pantai dan menulis batu prasasti, kedua utusan tersebut mencari dataran tinggi. Seharian penuh mereka berjalan dan setelah matahari terbenam keduanya baru beristirahat untuk melaksanakan Shalat Fardhu Maghrib. Selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, tiba-tiba terdengar oleh keduanya suara adzan. Kedua utusan Rasulullah SAW itu kaget, sebab di negeri yang baru mereka temukan itu belum mempunyai penghuni manusia. Lalu kedua utusan itu mencari arah datangnya suara yang baru didengarnya, dari kejauhan nampak sebuah lubang menyerupai gua yang masuk lurus ke dalam tanah. Diamatinya lubang tersebut dengan cermat lalu salah seorang dari kedua utusan berkata, bahwa suara saudara kita "ZUBAIR” sedang menyuarakan adzan Zhohor dan didalam gua itu samar-samar terlihat Hajar Aswad di Mekkah sedang berdzikir. Melihat kenyataan itu kedua utusan tersebut langsung mengerjakan shalat Fardhu Zhohor, sekalipun mereka belum lama melaksanakan Shalat Magrib. Itulah sebabnya masyarakat Buton zaman dulu apabila melaksanakan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha selalu masuk waktu Zhohor karena bersama dengan di Mekkah (kepala). Pendengaran dan penglihatan kedua utusan itu tersebut bukan seperti penglihatan dan pendengaran kebanyakan orang, tetapi atas kehendak Allah SWT sehingga dapat melihat dan mendengar bukan dengar bentuk lahiriah. Dari legenda tersebut bahwa jika kakek, nenek, ayah dan ibu atau saudara kita yang sudah meninggal dunia dapat dilihat dari lubang tersebut.

Dimulut gua inilah Abdul Gafur menulis aksara Arab yang berbunyi "BATHN” dan tulisan tersebut sampai sekarang masih ada, namun telah ditutupi oleh pondasi Masjid Agung Keraton Buton sebagai Muhabat Utama.

Abdul Gafur dan Abdul Syukur merahasiakan keberadaan gua yang mereka temukan karena penuh dengan rahasia dan merupakan pusat tanah (pusat dunia), sehingga masuk di akal apabila Rasulullah SAW menamainya Bathniy atau perut. Dan disinilah kedua utusan memasang bendera Rasulullah SAW, yang sekarang diabadikan menjadi tempat tiang bendera Kerajaan atau Kesultanan Buton.

Kedua utusan tersebut menyimpulkan bahwa negeri yang baru mereka temukan itu berasal dari segumpal buih air laut dan tanahnya masih muda usia. Dari daratan Bathniy/Bathn/Buton, diseberang laut terlihat oleh kedua utusan itu sebuah daratan lain. Kemudian didatanginya daratan tersebut dari daratan Buton. Sesampainya ditempat yang mereka tuju, keduanya mengadakan penelitian untuk mengetahui keadaan tanah daratan yang baru mereka temukan. Lalu mereka mencari dataran yang letaknya lebih tinggi, setibanya kedua utusan tadi menemukan batu berbentuk pohon sehingga tempat itu mereka namai "SIRATUL HIJIR” artinya Pohon Batu.

Pohon batu yang ditemukan oleh kedua utusan Rasulullah SAW tersebut tumbuhya dipinggir tebing dan disinilah Abdul Gafur dan Abdul Syukur memasang bendera Rasulullah SAW seperti yang dipasang pada negeri yang pertama mereka temukan yaitu negeri Bathniy. Kemudian mereka menulis nama negeri itu "MUNAJAT” yang sekarang disebut "MUNA” maksudnya adalah isi kandungan hakekat rahasia Mina kota Arab lama.

Penelitian yang dilakukan oleh kedua utusan itu mengatakan bahwa negeri Munajat kejadiannya dari pecahan kabut atau FILIYIN yang telah pijar merupakan suatu batu Nuqthah adalah titik BAH yang penuh berkah merupakan salah satu iradat Allah SWT.

Adapun asal kejadian Buton menurut hasil penyelidikan kedua utusan Rasulullah SAW adalah berasal dari segumpal buih pecahan batu Nuqthah tadi, dan atas izin Allah SWT sebagai HALIQUL ASY YAI yang menjadikan alam semesta dan segala isinya, akhirnya buih yang dimaksud menjadi segumpal tanah.

Dari kedua penelitian tersebut diartikan bahwa negeri Buton lebih muda umurnya daripada negeri Muna. Buton lebih dahulu dihuni oleh manusia dan berkahnya melebihi negeri Muna. Sedang penghuni-penghuninya adalah wali-wali Allah SWT yang alim. Selanjutnya menyebar keberbagai daerah seperti kedua utusan Rasulullah SAW Abdul Gafur dan Abdul Syukur, setelah menetap beberapa saat di negeri Buton dan Muna, keduanya kembali dan pindah ke negeri Pasai, Johor dan Cina, yang merupakan alur perjalanannya dari Jeddah (Mekkah) dan tidak kembali lagi ke negeri asalnya Madinah seperti harapan keluarganya.
Views: 881 | Added by: gafar | Tags: Sejarah Wolio | Rating: 3.0/4
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Copyright MyCorp © 2017
Search
Calendar
«  September 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930
Entries archive
Site Temanq
  • Gafar
  • Pengunjung

    website counters
    SEO Stats powered by MyPagerank.Net
    IKLAN
    Create a free website with uCoz